Cukai Rokok Naik
Cukai Rokok Naik

Vt-k – Pemerintah akan menaikkan tarif cukai hasil tembakau (CHT) atau cukai rokok akan meningkat hingga 12,5 persen. Tarif terbaru ini diberlakukan mulai bulan Februari 2021.

Sri Mulyani Indrawati sebagai Menteri Keuangan mengatakan, kenaikan cukai rokok bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan petani tembakau dan buruh industri hasil tembakau (IHT). Terlebih, pemerintah menggunakan dana hasil cukai tembakau (DBH CHT) sebesar 50 persen untuk membantu para petani hasil tembakau.

”Kita meminta 50% dari dana bagi hasil ini sekarang bargi para petani, buruh tani tembakau maupun buruh rokok. Ini bertujuan supaya mereka bisa menikmati kesejahteraan yang lebih dari hasil cukai hasil tembakau ini,” kata dia dalam APBN Kita di Jakarta (21/12/2020).

Bendahara Negara itu menyebutkan dalam Peraturan Kementerian Keuangan (PMK) Nomor 7/PMK.07/2020 tentang Penggunaan, Pemantauan, Dan Evaluasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau alokasi DBH CHT untuk bidang kesehatan adalah 50 persen.

Namun mulai tahun 2021 akan dilakukan perubahan komposisi, yaitu untuk penggunaan DBH CHT sebesar 25 persen dialokasikan di bidang kesehatan. Sementara sisanya 25 persen itu akan digunakan untuk law enforcement (penegakan hukum).

“Penggunaan dana bagi hasil cukai sebesar 25 persen masih tetap untuk bidang kesehatan, di utamakan untuk membantu masyarakat yang tidak bisa mengiur JKN (jaminan kesehatan nasional), dan juga untuk meningkatkan prevalensi dari merokok dan stunting sehingga kesehatan masyarakat menjadi lebih baik,” paparnya.

Rokok Ilegal
Rokok ilegal diperlihatkan petugas saat rilis rokok ilegal di Kantor Direktorat Jenderal Bea Cukai. Rokok ilegal ini diproduksi oleh mesin yang mampu memproduksi 1500 batang dalam satu menit.

Henry Najoan sebagai Ketua Umum Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok (GAPPRI), merasa ada yang tidak wajar dalam keputusan pemerintah dalam menaikkan tarif Cukai Hasil Tembakau (CHT) untuk produksi sigaret putih mesin (SPM) maupun sigaret kretek mesin (SKM) Tahun 2021 di masa pandemi Covid-19. Kecurigaan ini dikarenakan saat ini kemampuan daya beli masyarakat masih tertekan serta kenaikan CHT ini lebih tinggi dari inflasi nasional.

“Saya rasa kenaikan ini tidaklah wajar, karena kinerja industri sedang menurun akibat lemahnya daya beli karena dampak pandemi dan tingginya kenaikan cukai pada tahun 2020 kemarin. Apalagi saat ini pertumbuhan ekonomi dan inflasi masih minus,” ungkap Ketua Umum (GAPPRI).

Bos Gappri itu menjelaskan, bahwa industri hasil tembakau (IHT) masih belum mampu menyesuaikan dengan harga jual maksimal akibat adanya kenaikan cukai tahun 2020 sebesar 23 persen dan Harga Jual Eceran (HJE) sebesar 35 persen. Sedangkan harga rokok yang ideal yang harus dibayarkan konsumen pada tahun ini baru mencapai 13 persen yang seharusnya naik 20 persen.

”Artinya masih sekitar 7 persen untuk mencapai dampak kenaikan tarif 2020. Ini yang menyebabkan perkumpulan GAPPRI keberatan dengan adanya kenaikan tarif cukai 2021 yang sangat tinggi tersebut,” terangnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here