Peran Upik Lawanga dalam Jaringan Teroris
Peran Upik Lawanga dalam Jaringan Teroris

Vt-k – Setelah 14 tahun Taufik Bulaga menjadi buronan, dia merupakan alias Upik Lawanga ditangkap oleh Densus 88 Antiteor. Dia bersama 22 tahanan kasus terorisme lainnya tiba di aproun kargo Bandara Internasional Soekarno Hatta Pada hari Rabu 16 Desember 2020 kemarin . Upik Lawanga tertangkap oleh Densus 88 di Kabupaten Lampung Tengah, pada 23 November 2020.

Pada saat penangkapan tersebut kepolisian berhasil mendapatkan barang bukti berupa senjata rakitan dan menemukan sebuah bungker di dalam kediamannya. Bungker tersebut diduga digunakan untuk bersembunyi dan menyimpan berbagai macam senjata api oleh Upik Lawanga.

“Barang bukti yang diperoleh dari rumah Taufik ini sudah disita yang berupa senjata rakitan dan bungker yang di duga digunakan untuk tempat persembunyian dan penyimpanan senjata oleh Upik Lawangan. Kabag Penum akan segera mendatang ke Lampung bersama media akan melihat bunker itu seperti apa,” kata Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Raden Prabowo Argo Yuwono dalam jumpa pers di Gedung Bareskrim Polri jumat kemarin.

Upik Lawanga merupakan anggota Jamaah Islamiyah (JI) yang menjadi dalang dari beberapa teror bom. Seperti teror Bom yang terjadi di Tentena, Bom Gor Poso, Bom Pasar sentral, dan rangkaian tindakan terorisme lainnya sejak tahun 2004 hingga 2006.

Berikut ini adalah temuan polisi saat menangkap Upik Lawanga di Lampung yang berperan dalam jaringan teroris Jamaah Islamiyah (JI):

1. Temukan Bunker

Tim Detasemen Khusus Antiteror Polri (Tim Densus 88) telah menemukan bungker yang diduga digunakan oleh salah satu terduga teroris dari kelompok Jamaah Islamiyah (JI). Bungker ini digunakan oleh Taufik Bulaga alias Upik Lawanga untuk bersembunyi dan tempat penyimpanan berbagai macam senjata api. Diketahui, bungker ini terletak di kediaman Upik di Lampung.

2. Diminta Merakit Senjata

Sebelum penangkapan, Upik Lawanga sempat mendapatkan pesenan untuk membuat senjata api rakitan pada Agustus 2020 lalu.

”Pada bulan Agustus 2020, tersangka Upik ini mendapat pesanan dari pimpinannya untuk membuat senjata api rakitan. Pesanan tersebut dari pimpinannya,” ungkap Kepala Divisi Humas Polri Irjen Raden Prabowo Argo Yuwono di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Jumat, 18 Desember kemarin.

“Namun senjata rakitan tersebut belum diketahui kapan digunakannya. Yang bersangkutan sudah menyiapkan, mendapat perintah untuk pembuatan senjata,” sambungnya.

Sementara itu, Densus 88 Antiteror telah menyita senjata rakitan serta bunker yang berlokasi di kediamannya.

3. Mampu Rakit Bom Berdaya Ledak Tinggi

Argo mengatakan, selain bisa membuat senjata api, Upik Lawanga juga mampu merakit bom dengan daya ledak tinggi atau high explosive.

”UL ini juga memiliki kemampuan dalam merakit bom high explosive, senjata api dan kemampuan militer,” ungkapnya.

Kemudian, Argo juga mengatakan, bahwa Taufik dapat disebut profesor lantaran dia mampu mempelajari karakteristik suatu wilayah seperti wilayah Poso.

”Tersangka Upik ini diumpamakan profesor karena mampu mempelajari karakteristik wilayahnya. Misalnya masyarakat di Poso banyak yang menggunakan senter pada malam hari untuk cahaya penerangan. Maka yang bersangkutan membuat bom berbentuk seperti senter,” ucap Argo.

”Ini dilakukan supaya orang-orang sekitar tidak mencurigai, kalau dia membawa bom berupa senter. Termos juga ada. Misalnya, masyarakat sering membawa termos ke kebun, dia juga bawa termos untuk manipulasi supaya orang tidak curiga. Jadi, jika dia melakukan suatu kegiatan tidak diketahui oleh masyarakat sekitar,” sambungnya.

4. Sering Berpindah-pindah Tempat

Saat masa buron, terduga teroris Jamaah Islamiyah ini sering berpindah-pindah tempat. Menurut Argo, hal tersebut dilakukan supaya terhindar dari kejaran petugas. Salah satunya daerah yang disinggahi adalah Lampung. Saat dia berada di Lampung, disana dia usaha jualan bebek untuk biaya hidup disana.

5. Deretan Aksi Terornya hingga Menjadi DPO

Kepala Biro Penerangan Masyarakat, Divisi Humas Polri Brigjen Pol Awi Setiyono mengatakan, Upik Lawanga adalah sebagai penembak dan pengeboman bom GOR Poso yang terjadi pada 17 Juli 2004, bom Pasar Sentral yang terjadi pada 13 November 2004, Gereja Anugerah yang terjadi pada 12 Desember 2004, bom Pura Landangan yang terjadi pada 12 Maret 2005, dan bom Pasar Tentena yang terjadi pada 28 Mei 2005.

”Upik juga merupakan salah satu pelaku bom Pasar Maesa yang terjadi pada 31 Desember 2005, bom Termos Nasi Tengkura pada 6 September 2006, bom Senter Kawua pada 9 September 2006, dan juga kasus penembakan sopir angkot Mandale,” kata Awi di Jakarta, Senin 30 November 2020.

“Satgas kemudian menangkap Upik Lawanga yang merupakan pelaku pengeboman dan penembakan, Hasanuddin dan Basri pada 2006 hingga 2007,” tutur Awi.

Satgas Gakkum juga memasukkan 29 nama termasuk Upik Lawanga sebagai daftar pencarian orang (DPO).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here